Kamis, 15 Maret 2012

Sel Bahan Bakar (FUEL CELL)

Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)

Rhama taufika (14-2009-038)
10/13/2011


BAB I
DESKRIPSI SEL BAHAN BAKAR ( FUEL CELL )

Sebuah sel bahan bakar (fuel cell) adalah perangkat konversi energi elektrokimia yang mirip dengan baterai, berbeda dalam bahwa itu dirancang untuk terus-menerus penambahan reaktan dikonsumsi; yaitu menghasilkan listrik dari eksternal pasokan bahan bakar dan oksigen yang bertentangan dengan energi internal terbatas kapasitas penyimpanan baterai.Sebagai tambahan, elektroda dalam baterai bereaksi dan perubahan sebagai baterai terisi daya, atau dibuang, sedangkan elektroda sel bahan bakar adalah katalitik dan relatif stabil.
1.1. Prinsip Dasar Fuel Cell
Fuel cell bekerja berdasar prinsip pembakaran listrik-kimiawi, cell ini akan memproduk- si energi listrik arus searah. Fuel cell ini terdiri dari elektrolit yang memisahkan katoda dari anoda, elektrolit hanya dapat menghantar ion saja, sedangkan elektron tidak dapat melewati elektrolit, jadi elektrolit ini bukan penghantar listrik dan juga menghindarkan terjadinya reaksi kimia. Pada anoda akan dialirkan secara berkesinambungan bahan bakar dan pada kattode dialirkan oksigen, pengaliran ini dilakukan secara terpisah. Karena pengaruh katalisator pada elektroda, maka molekul-molekul dari gas yang dialirkan akan berubah menjadi ion. Reaksi pada anoda menghasilkan elektron yang bebas, sedang pada katoda elektron yang bebas akan diikat.
Elektron-elektron bebas yang terjadi harus dialirkan keluar melalui penghantar menuju ke anoda, agar proses listrik-kimiawi dapat berlangsung. Panas yang timbul dari hasil reaksi kimia harus terus menerus dibuang, agar energy listrik dapat terbentuk secara kontinyu.



Reaksi kimia pada fuel cell.
2H2 + O2 Þ 2H2O
Pada anoda hidrogen di oksidasi menjadi proton:
2H2 Þ 4H+ + 4 e-
Setiap molekul H2 terpecah menjadi dua atom H+(proton), sedang setiap atom hydrogen melepaskan elektronnya. Proton ini akan bergerak menuju katoda melewati membran. Elektron yang terbentuk akan menghasilkan arus listrik kalau dihubungkan dengan penghantar listrik menuju katoda. Pada katoda oksigen dirubah
O2 + 4H+ + 4 e-Þ 2H2O
Molekul oksigen akan bergabung dengan empat elektron, menjadi ion oksigen yang
bermuatan negatif untuk selanjutnya bergabung lagi dengan proton yang mengalir dari anoda. Setiap ion oksigen akan melepaskan kedua muatan negatifnya dan bergabung dengan dua proton, sehingga terjadi oxidasi menjadi air.


Jenis dari pada fuel cell ditentukan oleh material yang digunakan sebagai elektrolit yang mampu menghantar proton. Pada saat ini ada 6 jenis fuel cell yaitu:
• Alkaline (AFC)
• Proton exchange membrane, juga disebut proton elektrolyt membrane(PEM)
• Phosphoric Acid(PAFC)
• Molten carbonate(MCFC)
• Solid oxide(SOFC)
• Direct methanol fuel cells(DMFC)
• Regenerative fuel cells
Dari tabel 1 dapat dilihat jenis dari pada elektrolit untuk masing-masing fuel cell dan operasi emperatur, karakteristik dan penggunaannya. Fuel cell mempunyai efisiensi yang cukup tinggi, dari 40% sampai 70%, tergantung dari jenis fuel cell, yang paling tinggi adalah alkaline (AFC), olid oxyde (SOFC), direct methanol fuel cell(DMFC) dan regenerative fuel cell.
Fuel cell mempunyai kepekaan terhadap zatzat tertentu seperti CO2, CO, korosi dan produk oksidasi. Penggunaan dari pada fuel cell ini terutama untuk menghasilkan energi yang dipakai pada program angkasa luar, power station penghasil listrik atau energi panas dan untuk kendaraan. Alkaline fuel cells(AFC) menggunakan alkaline potassium, hydroxyde sebagai lektrolit, dapat menghasilkan efisiensi sampai 70%. Banyak digunakan oleh NASA untuk misi ulang-alik angkasa luar. Biayanya sangat mahal, sehingga tidak dipakai untuk komersial. Proton exchange membrane(PEM) memiliki membran yang terbuat dari plastik tipis yang pada kedua sisinya dilapisi dengan platina. Jenis ini sangat sesuai untuk kendaraan, karena mampu beroperasi pada temperature yang rendah. Harganya relatif murah, sehingga dapat digunakan untuk alat listrik, kamera video dan telepon selular.
Fuel cell PEM memiliki kepadatan energy yang tinggi (high energy density). Gambar 3a dan 3b adalah proton exchange membrane fuel cells dari beberapa produsen. Phosphoric acid fuel cells (PAFC) sudah banyak digunakan untuk penghasil listrik di rumah sakit, hotel, perkantoran, sekolah dan stasiun penghasil listrik.


Molten carbonate (MCFC) beroperasi pada temperatur yang tinggi sehingga hanya dapat digunakan untuk keperluan industri. Jenis ini dapat dipakai untuk menghasilkan energi yang besar, energi sebesar 10 kW dan 2 MW telah diuji coba di Jepang dan Itali. Solid oxide (SOFC) ini menggunakan material dari keramik keras, memunng-kinkan untuk operasi temperatur tinggi, banyak dicoba untuk keperluan stasiun pembangkit tenaga listrik. Cell ini berbentuk tabung. Gambar 4 sebuah solid oxyde fuel cell.


Jepang telah mencoba dengan tenaga yang dihasilkan sebesar 25 kW dan di Eropa sudah dicoba sebesar 100 kW, percobaan sebesar 220 kW sedang dilakukan. Direct methanol fuel cell (DMFC) mirip dengan proton exchange elektrolyt (PEM), yaitu sama-sama menggunakan plastik polymer sebagai membran. Pada DMFC hydrogen diambil secara langsung oleh katalisator anoda dari methanol cair, sehingga tidak diperlukan sebuah reformer bahan bakar. Regenerative fuel cell merupakan jenis yang terbaru. Dengan menggunakan elektrolisa tenaga solar cell, maka bahan-bahan yang diperlukan oleh fuel cell diambil dari air dengan cara mengubahnya menjadi hidrogen dan oksigen, yang selanjutnya dapat menghasilkan tenaga listrik, panas dan air. Air ini didaur ulang dengan proses yang sama.
Dari tabel 1 dapat diketahui temperature operasi dari bermacam-macam jenis fuel cell tersebut. Apabila fuel cell ini digunakan untuk kendaraan, maka temperatur operasi yang terlalu tinggi akan kurang memadai. PEM dan DMFC beroperasi pada temperatur rendah, sedang penggunaan AFC untuk keperluan ini tidak menguntungkan, karena harganya mahal.

1.3. Keuntungan Fuel Cell
• Mempunyai efisiensi thermis dan efisiensi listrik yang tinggi
• Tidak berpengaruh terhadap efisiensi baik digunakan pada beban penuh atau
setengah
• Gas buang yang beracun hanya sedikit, bahkan dapat mencapai zero emission
• Kemungkinan terjadinya gangguan kerusakan jarang dan jaraknya cukup lama
• Karena tidak ada bagian yang berputar, maka perawatan lebih ringan
• Tidak bising
Table 2. Efisiensi dari Bermacam-Macam Jenis Fuel Cell



Keuntungan efisiensi lebih tinggi dibandingkan dengan motor bakar, adalah ketidak terikatannya pada proses Carnot yang membatasi efisiensi motor bakar, dimana proses Carnot adalah proses motor bakar yang paling ideal. Batas efisiensi maksimum yang dapat dicapai
oleh sebuah motor bakar adalah efisiensi sesuai proses Carnot. Sistem fuel cell mepunyai efisiensi yang tidak dibatasi oleh proses Carnot.


Efisiensi dari proses Carnot
hC = 1 – To/T
Pada motor bakar pemakaian bahan bakar sangat dipengaruhi oleh beban operasinya, sehingga pada saat beroperasi pada beban yang kurang menguntungkan pemakaian bahan bakar akan lebih boros, sedang pada fuel cell hal ini tidak berpengaruh. Karena tidak ada pembakaran, maka tidak ada gas nitrogen oxida(NOx). Gas buang yang beracun pada fuel cell kadarnya sangat rendah tergantung dari jenis bahan awal yang dipakai, bahkan apabila mengambil hidrogen dari udara atau air dapat ditekan sampai 0%. Tidak adanya bagian yang berputar maupun komponen yang bergerak secara kontinyu pada fuel cell menyebabkan tidak terjadinya keausan, keausan yang terjadi hanya karena proses elektro kimiawi, dengan digunakannya material yang tepat maka keausan dapat diperkecil, dengan demikian maka kerusakan yang mungkin terjadi tidak terlalu banyak dan perawatan menjadi lebih ringan. Dengan terjadinya reaksi kimia yang tidak mengalami gesekan dan ledakan, maka tidak ada suara yang keras.

BAB II
SEJARAH FEUL CELL
Tentu kita masih ingat bagaimana evolusi energi listrik terjadi hingga seperti sekarang. Salah satu tahapnya adalah penggunaan accumulator atau yang biasa kita sebut sebagai accu atau aki. Alat penghasil listrik ini dulu sering kita jumpai sebagai penghidup televisi.
Adalah seorang berkebangsaan Inggris yang bernama Sir William Robert Grove, manusia pertama pembuat alat sederhana yang belakangan disebut sebagai fuel cell. Seorang hakim pengadilan, penemu, dan ahli fisika lahir tanggal 11 juli 1811 di Swansea, South Wales dan meninggal di London pada tanggal 1 Agustus 1896.
Setelah menyelesaikan pendidikan privatnya, Grove masuk Brasenose College, Oxford hingga mendapatkan gelar B.A. di tahun 1832. Beliau juga belajar hukum pada Lincoln Inn.
Kariernya dalam bidang ilmu pengetahuan dimulai sejak dia membuat voltaic battery yang dijelaskannya pada pertemuan The British Association for the Advancement of Science di tahun 1839. Fuel cell yang dibuatnya terdiri atas elektrolit asam, keping platina serta tabung gas oksigen dan hidrogen, dan menggunakan prinsip reaksi balik terbentuknya air, di mana hidrogen dan oksigen akan bereaksi dalam larutan asam dan menghasilkan air dan listrik dengan arus sebesar 12 ampere dan tegangan 1,8 volt. Sel ini kemudian disebut sebagai Grove`s Battery atau batere Grove atau sel Grove.
Sejak saat itu sel groove banyak digunakan. Akan tetapi, karena listrik yang dihasilkan sedikit dan tidak mencukupi lagi untuk kebutuhan listrik yang semakin besar, lambat laun sel Grove mulai tergeser. Namun, sel Grove tetap menjadi dasar acuan pengembangan fuel cell selanjutnya.
Inovasi “fuel cell” lain
Temuan-temuan fuel cell selanjutnya bermunculan. Di tahun 1889, kata fuel cell pertama kali diperkenalkan oleh Ludwig Mond dan Charles Langer yang mencoba membuat fuel cell yang dipakai untuk industri batu bara. Walaupun sumber lain ada juga yang mengatakan bahwa kata fuel cell pertama kali dipakai oleh William White Jaques. Jaques juga adalah peneliti pertama yang memakai asam fosfat sebagai elektrolit.
Di tahun 1920 penelitian fuel cell di Jerman membuka jalan bagi pembuatan siklus karbonat dan fuel cell oksida padat seperti yang ada sekarang ini.
Di tahun 1932, seorang insinyur Francis T. Bacon memulai penelitian penting dalam fuel cell. Dulunya fuel cell menggunakan elektroda platina dan asam sulfat sebagai elektrolit di mana platina sangat mahal dan asam sulfat sangat korosif (membuat cepat berkarat). Di sini Bacon mengembangkan katalis platina yang sangat mahal itu dengan sel oksigen dan hidrogen yang memakai elektrolit alkali yang tidak korosif serta elektroda yang tidak mahal. Penelitiannya berlangsung hingga tahun 1959. dalam pendemonstrasian model desainnya menghasilkan 5.000 watt yang dapat menghidupkan mesin pengelas. Fuel cell tersebut akhirnya disebut sebagai Bacon Cell.
Seorang insinyur Allis-Chalmers Manufacturing Company, di bulan Oktober tahun 1959 mendemonstrasikan 20 traktor bertenaga kuda yang merupakan mesin pertama menggunakan fuel cell.
NASA menggunakan “fuel cell “
Sebuah produsen alat elektronik terkenal di Amerika, selama tahun 1960-an memproduksi tenaga listrik berbasis fuel cell untuk NASA sebagai tenaga pesawat ruang angkasanya yaitu Gemini dan Apollo. Sistem fuel cell yang dipakai dalam alat ini berdasar pada sel Bacon. Sampai sekarang, tenaga yang dipakai dalam pesawat ruang angkasa tetap memakai fuel cell karena dengan fuel cell energi yang dipakai tidak terlalu ribet seperti baterai atau tenaga nuklir yang cukup riskan. Dalam hal penelitian teknologi fuel cell, NASA telah mendanai lebih dari 200 riset.
Bus yang memakai teknologi fuel cell pertama kali diluncurkan pada tahun 1993 dan untuk mobil biasa di Eropa dan Amerika kini telah banyak dipakai. Sejumlah produsen mobil mewah dan produsen mobil kelas menengah juga mulai mengembangkan mobil yang memakai fuel cell ini, sejak tahun 1997.
Sejak saat itu bermunculan temuan-temuan yang lebih mutakhir tentang mobil yang bertenaga fuel cell ini. Promosi yang dilakukan besar-besaran dengan mengedepankan ramah dan amannya emisi yang dihasilkan kendaraan sehingga lingkungan yang bebas polusi dan takkan mengganggu lingkungan, kemudian juga dapat diperbaruinya bahan bakar yang akhirnya mengurangi pemakaian BBM. Ditambah lagi bermunculannya tempat-tempat penjualan bahan bakar ini, seperti adanya pom-pom hidrogen.
Mikroba untuk “fuel cell”

Tak hanya itu, teknologi fuel cell yang ditemukan juga menjadi bervariasi, seperti ditemukannya fuel cell yang lebih efisien dalam menghasilkan gas hidrogen hingga jumlahnya semakin berlipat. Teknologi ini bahkan melibatkan proses fermentasi oleh mikroba yang sebelumnya sangat mustahil sekali di dalam produksi bahan bakar.
Teknologi ini berkembang sejak tahun 2.000 yang kita kenal sebagai MFC atau Microbial Fuel Cell. MFC ini selain menghasilkan hidrogen yang banyak hingga 4 kali lipat dari fuel cell biasa, substrat yang dipakai mikroba dalam berfermentasi adalah limbah rumah tangga, industri ataupun limbah pertanian yang tidak terpakai sehingga selain yang dihasilkan adalah gas hidrogen juga didapatnya produk akhir berupa air bersih yang tentu saja dapat dipakai untuk berbagai macam kebutuhan.
Dan jelas hal ini bisa mengurangi sejumlah dana yang dipakai untuk pembersihan air limbah. Walaupun memang MFC ini belum dapat dipakai di dalam menghidupkan mobil seperti fuel cell sebelumnya, sejumlah pakar peneliti merasa optimistis hal itu dapat terwujud karena penelitian ke arah itu sedang dalam pengembangan.

BAB III
Analisis SWOT untuk diaplikasikan dimasa depan
air sebagai bahan bakunya, ketersediaan bahan baku yang melimpah dan terbarukan ini tidak menjadi masalah. fuel cell, sebagai sebuah sistem pembangkit listrik, menghasilkan energi dari reaksi kimia dari pencampuran gas hidrogen yang berasal dari air dengan oksigen dari udara. Fuel cell merupakan energi masa depan yang begitu menjanjikan dilihat dari banyak aspek. Karena menggunakan
PENERAPAN fuel cell juga akan membantu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak sehingga akan menghemat devisa. Dari segi lingkungan hidup pemanfaatan fuel cell di sektor transportasi akan mengurangi tingkat pencemaran udara di kota besar karena emisi buang sel bakar ini berupa uap air.
Pemanfaatan sistem fuel cell akan membuka lahan bisnis baru di Indonesia, termasuk industri pendukungnya, seperti distribusi gas LNG (liquefied natural gas) atau LPG (liquefied petroleum gas).
Namun, produk teknologi yang ramah lingkungan ini masih relatif baru dikembangkan di dunia dan saat ini masih dalam tahap prototipe dan uji coba lapangan di berbagai negara. Kondisi ini menurut Agus Hartanto, Koordinator Bidang Energi LIPI, pada "Diskusi Interaktif II Fuel Cell", di Jakarta, Rabu (23/7), merupakan peluang bagi Indonesia.
"Jika Indonesia ikut mengembangkannya, bangsa ini tidak akan tertinggal sehingga nantinya tidak hanya menjadi pasar bagi produk asing dan pengguna teknologi itu. Dengan menguasai teknologi fuel cell, bangsa Indonesia bisa punya posisi tawar," ujar Agus.
Ia mengingatkan agar Indonesia tidak mengalami hal seperti teknologi telepon genggam. Karena kurang menguasai teknologi alat komunikasi canggih itu dan tidak mempunyai kontribusi apa pun dalam pengembangannya, Indonesia hanya menjadi bangsa pengguna produk asing tersebut.
Prospek cerah
Melihat prospek fuel cell yang cerah, tahun 1986 di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi telah dibuat rencana penelitian bahan bakar itu melalui program Rusnas (Riset Unggulan Strategis Nasional). Namun, karena kendala dana rencana ditangguhkan.
Tahun 1999 beberapa peneliti memprakarsai berdirinya sebuah konsorsium peneliti untuk melakukan riset fuel cell secara terpadu di beberapa lembaga riset di Indonesia. Namun, kalau Konsorsium Fuel Cell Indonesia pada mulanya hanya menghimpun peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi serta periset dari perguruan tinggi (UI dan ITB) maka belakangan mulai melibatkan kalangan industri seperti Pertamina dan Medco.
Agus yang juga Ketua Badan Pendiri Konsorsium Fuel Cell Indonesia menambahkan, kegiatan konsorsium itu, antara lain mengadakan dialog interaktif setiap dua tahun. Pertemuan pertama dilaksanakan di Bandung tahun 2001. Sementara itu, pelaksanaan litbang dibagi sesuai kompetensi masing-masing lembaga.
Pengembangan bahan-bahan elektroda pada fuel cell seperti polimer dan karbon aktif dilakukan oleh Puslit Fisika dan Metalurgi LIPI serta Batan. Namun, Puslit Fisika Terapan LIPI juga mengembangkan teknik konversi energi.
Menurut Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Anung Kusnowo, saat ini pihaknya telah mampu membuat lembar polimer dan merakitnya menjadi satu stack (lempeng pereaksi) untuk pembangkit listrik berkapasitas 50 watt. Tahap selanjutnya adalah pengembangan kapasitas lebih tinggi menggunakan tujuh stack.
Lemigas dan Ditjen LPE memikirkan perangkat pendukung sistem fuel cell, seperti tabung hidrogen yang aman dan soal distribusi gas tersebut dan pemanfaatannya. Lalu BPPT melakukan integrasi sistem dan peningkatan efisiensi sistem yang ada.
Dalam hal ini, seperti dikemukakan Kepala Unit Pelaksana Teknis LSDE (Laboratorium Sumber Daya Energi) BPPT, peneliti di BPPT memfokuskan pada pengembangan pembangkit listrik tenaga fuel cell, baik terpusat maupun individual dan bidang transportasi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.
Pembuatan rangkaian pembangkit fuel cell dengan menggabungkan reformer, dilakukan berdasarkan pengalaman membuat solar home sistem fotovoltaik. Kegiatan riset yang telah dilakukan meliputi pengkajian kelayakan penerapan pembangkit listrik fuel cell. Dalam hal ini, UPT LSDE-BPPT mengkaji harga operasional listrik berdasarkan volume gas hidrogen terpakai pada pembangkit listrik fuel berkapasitas 500 watt.
Sementera itu, BPPT juga tengah mengkaji penerapan fuel cell pada kendaraan bermotor, yang saat ini dalam tahap penyelesaian. Selain itu, dikaji kelayakan pemanfaatan methanol sebagai sumber energi kendaraan bermotor.
Pembangkit skala kecil
Tahun ini Konsorsium Fuel Cell Indonesia merencanakan pembuatan prototipe pembangkit fuel cell berkapasitas 500 watt dengan kandungan lokal 30 persen. Sedangkan tahun depan ditingkatkan menjadi 1 kW dengan menggunakan tiga stack.
Program pengembangan fuel cell diarahkan pada pembangkit listrik skala kecil, yaitu sekitar 2 kW di rumah-rumah. Tujuan tahap awal adalah masyarakat menengah ke atas.
Untuk riset fuel cell, Agus menyayangkan selama ini belum didukung dana dari lembaga riset yang terkait. Baru tahun ini penelitian fuel cell akan mendapat dana dari Kementerian Riset dan Teknologi yang akan memberikan Rp 400 juta melalui konsorsium. Sedangkan tahun depan diharapkan suntikan dana dari Program Rusnas yang diusulkan sebesar Rp 2 miliar.
Diperkirakan pengembangan prototipe pembangkit listrik sampai kapasitas 2 kW akan mencapai tahap komersial tahun 2005. Selanjutnya, Agus mengharapkan pembuatan fuel cell skala industri dilakukan oleh industri nasional.
Ia berkeyakinan prospek pasar pembangkit fuel cell skala kecil ini cerah, karena saat ini saja PLN telah kewalahan memenuhi permintaan listrik terutama dari rumah tangga yang mengalami peningkatan pesat. Dengan begitu, tiap rumah tangga dapat mandiri memenuhi kebutuhan listriknya, tidak tergantung pada PLN.
Namun saat ini penggunakan fuel cell sebagai pembangkit listrik belum tergolong ekonomis, dibandingkan dengan BBM. Pembangkit dengan BBM harganya enam sen dollar AS per kWh, sedangkan gas hidrogen masih sekitar 1-2 dollar AS per kWh.
Dengan pengembangan teknologi dan diproduksi dalam jumlah besar, pembangkitan hidrogen dapat mencapai 75 sen dollar AS per kWh. Pada tingkat ini sudah tergolong ekonomis menurut Agus.
Menurut Anung pengembangan fuel cell memerlukan dukungan kebijakan pemerintah untuk mendorong kegiatan penelitian dan pemanfaatannya di industri dan masyarakat. Dari sisi pemasokan gas hidrogen, misalnya, diperlukan subsidi dari pemerintah sehingga harga jualnya bersaing dengan BBM.
Saat ini, mahalnya pembangkit fuel cell pada proses pemisahan hidrogen dan oksigen. Selain itu, untuk pemisahan itu, diperlukan daya energi yang besar. Namun, di Inggris ditemukan katalis yang memiliki efektivitas tinggi dalam pemisahan dua unsur gas tersebut.
Elektrolisa pada air untuk mendapatkan hidrogen merupakan teknologi yang rumit dan mahal. Karena itu, digunakan methanol, yang berbentuk cair sehingga mudah disimpan seperti bensin. Namun, penggunaan memerlukan katalisator untuk mendapatkan hidrogen. Dan dari reaksi untuk mendapatkan hidrogen dihasilkan emisi karbon monoksida dan karbon dioksida. Meskipun begitu, emisi ini lebih bersih dibandingkan pembakaran BBM.
Penerapan "fuel cell"
Di dunia penerapan fuel cell tidak hanya terbatas pada kendaraan bermotor dan pembangkit listrik di rumah tangga, tapi meluas ke peralatan elektronika seperti telepon seluler. Pada telepon genggam fuel cell digunakan sebagai baterai. Dibandingkan baterai litium, baterai fuel cell tahan 10 kali lipat lebih banyak. Dengan begitu, telepon seluler dapat "hidup" sebulan tanpa perlu di-"setrum" baterainya.
Beberapa negara yang maju di bidang fuel cell, yaitu AS, Jepang, dan negara-negara Eropa seperti Perancis, Jerman, dan Inggris. Di antara negara maju tersebut, Jepang yang paling awal memasuki tahap komersial, yaitu untuk kendaraan berbahan bakar fuel cell. Tahun ini Toyota telah mengeluarkan mobil fuel cell yang harganya sekitar Rp 1 miliar.
Amerika Serikat telah menggunakan fuel cell untuk bus-bus, namun belum sampai ke tahap komersial karena masih mahalnya komponen tersebut. Meski demikian, pada tahun 1999-2000 investasi awal pembangkit listrik fuel cell masih lima kali lipat dibandingkan BBM, dan sekarang ini telah mencapai dua lipat dibandingkan yang konvensional. (yun)










PUSTAKA
• http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/
• http://www.lipi.go.id
• Pikiran Rakyat, 25 September 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar